BRIDA Jateng Gelar Sinau Bareng Kanggo Jateng (Sinbago Jateng) di Demak, Dorong Hilirisasi Inovasi Daerah

·

·

Bagikan Berita Ini

Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan “Sinau Bareng Kanggo Jateng (Sinbago Jateng)” dengan tema “Akselerasi Hilirisasi Inovasi Daerah: Transformasi Inovasi menjadi Produk Bernilai melalui Optimalisasi Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT)”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 12 Maret 2026, bertempat di Ruang Pertemuan Bapperida Kabupaten Demak diikuti oleh perwakilan Bappeda/Bapperida/BRIDA se-Jawa Tengah, akademisi, serta para inovator.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala BRIDA Provinsi Jawa Tengah, Drs. Mohamad Arief Irwanto, M.Si. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pengembangan ekonomi berbasis inovasi dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga para inovator.

Beliau juga menekankan bahwa inovasi yang dihasilkan di daerah perlu terus didorong agar tidak berhenti pada tahap ide atau prototipe saja, tetapi dapat berkembang hingga siap diterapkan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Kepala Bapperida Kabupaten Demak, Ketua Tim Audit Teknologi II Direktorat Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, serta Legal Manager PT Pura Barutama Kudus.

Dalam pemaparannya, para narasumber menyampaikan berbagai materi yang berkaitan dengan kebijakan dukungan hilirisasi inovasi, standardisasi dan peningkatan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT), serta perspektif industri dalam proses hilirisasi inovasi.

Bapperida Kabupaten Demak memaparkan berbagai kebijakan dan program yang mendukung hilirisasi inovasi daerah, antara lain melalui penyelenggaraan lomba Krenova, program inkubasi inovasi, diseminasi inovasi, fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), pengembangan komunitas riset dan inovasi, serta penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam mendukung kegiatan riset dan inovasi di daerah.

Sementara itu, materi mengenai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) disampaikan sebagai salah satu instrumen untuk mengukur tingkat kesiapan suatu inovasi sebelum dikembangkan lebih lanjut hingga tahap penerapan maupun komersialisasi. Dari perspektif industri, proses hilirisasi inovasi umumnya diawali dengan kegiatan riset yang kemudian dilanjutkan dengan tahapan uji coba (trial and error). Setelah melalui proses tersebut dan dinilai layak, inovasi selanjutnya dapat memasuki tahap produksi dan komersialisasi.

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan inovasi daerah, sehingga berbagai ide dan inovasi yang berkembang di masyarakat dapat terus didorong untuk dikembangkan menjadi produk yang bernilai serta memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.

(RIDA/Saf)

Berita lainnya